Inilah film dokumenter pertama yang menampilkan pengakuan
algojo pembantai orang-orang Partai Komunis Indonesia pada 1965-1966. Anwar
Congo, preman bioskop di Medan, menjadi tokoh pembantai utama di kota itu. Dalam
film berjudul The Act of Killing [Jagal]
ini, ia memperagakan ulang berbagai kekerasan yang dilakukannya. Film karya
Joshua Oppenheimer dan awak produksinya in digarap selama 7 tahun. Film ini
tidak berangkat dari sebuah skrip atau outline tertentu, tapi mengandalkan
tangkapan peristiwa candid, spontan
dan emosional. Pers barat menyebut film ini mengerikan dan mengguncang batin.
SINOPSIS
Anwar Congo dan kawan-kawannya menari-nari sepanjang adegan
musikal, menyiksa tahanan dalam adegan gangster bergaya film noir, lalu berkuda
melintas padang rumput melantunkan yodel koboi. Terjunnya mereka ke dalam dunia
perfilman disambut gembira dalam media dan dibahas dalam televisi, sekalipun
Anwar Congo dan kawan-kawannya adalah pembunuh massal.
Ketika pemerintah Indonesia digulingkan oleh militer pada
1965, Anwar dan kawan-kawan ‘naik pangkat’ dari preman kelas teri pencatut
karcis bioskop menjadi pemimpin pasukan pembunuh. Mereka membantu tentara
membunuh lebih dari satu juta orang yang dituduh komunis, etnis Tionghoa, dan
intelektual, dalam waktu kurang dari satu tahun. Sebagai seorang algojo dalam
pasukan pembunuh yang paling terkenal kekejamannya di Medan, Anwar telah
membunuh ratusan orang dengan tangannya sendiri.
Hari ini, Anwar dihormati sebagai pendiri organisasi
paramiliter sayap kanan Pemuda Pancasila (PP) yang berawal dari pasukan
pembunuh itu. Organisasi ini begitu kuat pengaruhnya sehingga pemimpinnya bisa
menjadi menteri, dan dengan santai menyombongkan segala macam hal, dari korupsi
dan mengakali pemilu sampai melaksanakan genosida.
Jagal bercerita tentang para pembunuh yang menang, dan wajah masyarakat yang dibentuk oleh mereka. Tidak seperti para pelaku genosida Nazi atau Rwanda yang menua, Anwar dan kawan-kawannya tidak pernah sekalipun dipaksa oleh sejarah untuk mengakui bahwa mereka ikut serta dalam kejahatan terhadap kemanusiaan. Mereka justru menuliskan sendiri sejarahnya yang penuh kemenangan dan menjadi panutan bagi jutaan anggota PP.
Jagal adalah sebuah perjalanan menembus ingatan
dan imajinasi para pelaku pembunuhan dan menyampaikan pengamatan mendalam dari
dalam pikiran para pembunuh massal. Jagal adalah sebuah mimpi buruk
kebudayaan banal yang tumbuh di sekitar impunitas ketika seorang pembunuh dapat
berkelakar tentang kejahatan terhadap kemanusiaan di acara bincang-bincang
televisi, dan merayakan bencana moral dengan kesantaian dan keanggunan tap-dance.
sumber : jagalfilm.com
Muhammad Fahmi Alby

Setelah rezim Suharto tumbang bukan berarti PKI welcome, hati2lah bagi generasi muda yang btak mengalami situasi sekitar tahun 1965.
BalasHapusSituasi saat itu memang chaos, kacau. PKI sebelum terjadinya peristiwa G30S/PKI sangat berkuasa di Indonesia. Sangat berkuasa termasuk ekses2nya.
Pasca G30S sayangnya memang terjadi 'pembersihan' yang kelewatan. Tapi bukan berarti PKI welcome untuk Indonesia saat ini. Hati2lah.
Nggak penting komunis welcome atau atau tidak welcome. Nggak penting apakah kapitalis welcome atau tidak welcome. Nggak penting Ahmadiyah, Syiah itu welcome atau tidak welcome.
BalasHapusYang penting kita, bangsa Indonesia, harus sepakat bahwa kekerasan, atau 'pembersihan' yang kelewatan, segala pelanggaran HAM itu TIDAK welcome di negeri ini.
Itu saya kira pesan dari film The Act of Killing.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSudah bisa ditonton di youtube: http://www.youtube.com/watch?v=3tILiqotj7Y
BalasHapus