Tidak gratis... berarti bayar dong? Ya, poliklinik yang
dimaksud di sini adalah Poliklinik IPB, dan layanan Poliklinik IPB jangan
salah, adalah gratis. Setiap mahasiswa yang sakit terutama mahasiswa TPB dapat
secara langsung berobat di poliklinik. Perjalanan jauh dari asrama, melewati
CCR, SMA Kornita, Asrama Internasional tidak terasa ketika disambut oleh dokter
yang baik. Diperiksa, diberi obat, diberi saran, gratis lagi.
Pada kenyataannya, wujud dari poliklinik yang “gratis” ini
sangat baiknya memberikan pelayanan yang maksimal. “Ini gue diare, tapi kok
dikasih obatnya macam-macam,” keluh Noe, mahasiswi TPB. “Temen aku sakit panas
dikasih OBH Nusantara,” ujar Mutiara, mewakili teman selorongnya yang sakit.
“Dokternya jutek abis, ngelarang gue nemenin temen gue,” ucap Syifa dengan
marah. Lalu berbagai keluhan lain dari mahasiswa yang menyangkut pelayanan
poliklinik, yang seperti tercontohkan di atas, obat dan dokternya.
Khususnya mahasiswa TPB yang tak dapat berobat di luar
karena tempat tinggal yang berada di lingkungan IPB. Mengacu pada tingkat
efesiensi dan efektivitas, mahasiswa TPB tentunya akan memilih poliklinik. Mau
tak mau ya, berobat ke poliklinik. Walau pada akhirnya beberapa mahasiswa lebih
memilih meminum obat “warung” daripada berobat, ada juga yang membiarkan
sakitnya dengan beroptimis untuk sembuh.
Melihat pentingnya kebutuhan mahasiswa akan senantiasa
sehat, pelayanan poliklinik seharusnya dievaluasi lagi. Poliklinik yang tidak
gratis dapat menjadi solusi jika sebuah “kegratisan di muka” dianggap terlalu
mahal. Tidak apa membayar, mengorbankan uang, asal terjangkau, puas, dan
sembuh.

0 komentar: