Oleh
Nahdah Sholihah
Bersyukur
sebagai mahasiswa TPB angkatan 49 mendapatkan sebuah fasilitas perkuliahan
sendiri. Letaknya berdekatan dan terletak hanya di satu gedung, gedung CCR. Ruangan-ruangan
lengkap dengan papan tulis, proyektor, kursi, AC semuanya serba lengkap dan
baru. Tidak seperti angkatan-angkatan yang lalu, mereka harus bercampur,
menempati ruang-ruang kuliah lain yang letaknya berjauhan satu sama lain.
Mereka juga memakai ruangan yang dipakai sudah cukup lama dan fasilitas seperti
AC sering bermasalah.
Sebagai
mahasiswa TPB yang tinggal di asrama putri, rasa syukur saya semakin menjadi
karena letak CCR dekat sekali. “Wah, ini mah ngesot juga bisa,” seru teman Ayah
saya ketika mengantar saya pertama kali mendatangi asrama. Memang, ketika
berangkat kuliah saya tidak bisa berbohong kalau saya memang santai sekali,
walaupun akhirnya teman-teman saya selalu mendorong saya untuk datang lebih
pagi, seperti 30 menit sebelum perkuliahan di mulai.
Saya senang
berkuliah di CCR, semua serba baru dan bersih, kamar mandinya pun begitu.
Ketika menuju ruangan lain dalam pergantian kelas kuliah juga mudah.
Ruangan-ruangan diatur dengan begitu rapi. Tetapi satu hal yang saya kecewakan
adalah ketika tiba saatnya sholat dzuhur. Selain karena ketidaksetujuan saya
pada jadwal kuliah saya, yang tidak ada jeda untuk sholat dzuhur lebih awal
(dan juga makan siang), saya kecewa dengan tidak adanya tempat untuk sholat.
Memang seorang Muslim dapat sholat di manapun asal tempat itu bersih, seperti
sebuah sudut kosong, bahkan saat berkendara pun bisa sholat. Tetapi, tempat
untuk sholat saya maksud di sini adalah ruangan khusus untuk sholat.
Sholat
dzuhur pertama saya di sela rangkaian aktivitas perkuliahan adalah di Musholla
FMIPA. Karena memang tidak ada tempat untuk sholat. Masa itu adalah masa awal
perkuliahan. Pihak TPB belum memberikan solusi pada ketidakadanya ruangan
khusus untuk sholat ini.
Memang kini
TPB memberikan solusi dengan menyulap auditorium menjadi tempat sholat dzuhur
untuk sementara. Tetapi kapankah terdapat tempat yang benar-benar untuk sholat?
Kalau memang ada ruangan kosong, kenapa menjadikan auditorium untuk tempat
sholat? Di mana pemikiran keberadaan tempat sholat ketika gedung CCR dibangun?
Selain
karena faktor malas, saya memang enggan ketika waktu sholat tersebut tiba. Bila
ada waktu yang lebih panjang untuk meneruskan ke kelas kuliah setelahnya,
tentunya saya lebih baik sholat sekalian makan siang di asrama. Andai saja
terdapat tempat yang benar-benar untuk sholat, seperti sebuah Musholla dan
sebuah tempat wudhu yang layak, tentunya tak hanya menghilangkan rasa enggan
tetapi menciptakan rasa nyaman.
Tentang
“tempat wudhu yang layak”, sebuah kamar mandi tentunya sangat tidak layak untuk
dijadikan tempat berwudhu. Memang kamar mandi CCR bersih tetapi kebersihan itu
tidak setiap saat. Wudhu bercampur najis tentunya sangat tidak nyaman.
Kalau pihak
TPB sangat mempertimbangkan kenyamanan mahasiswa dan kualitas kerohaniannya,
mereka seharusnya berpikir lebih keras untuk sebuah musholla lengkap dengan
tempat wudhu. Auditorium adalah auditorium, bukan tempat sholat, dan musholla
FMIPA letaknya terlalu jauh untuk dapat menyusul ke kelas kuliah selanjutnya.
Selain karena pertimbangan kenyamanan dan kualitas, sudah seharusnya sebuah
gedung terdapat sebuah tempat khusus untuk sholat demi kewajaran dan kelayakan.

0 komentar: