Oleh : Sitti Kurnia Apriliani_Reporter Magang
Perjuangan mengarungi belantara kehidupan memang sulit. Tidak semua orang yang
mampu hidup sesuai harapan yang ia inginkan. Banyak yang tak punya harta dan
berusaha mengais sisa-sisa rezeki. Dan tak sedikit dari yang banyak harta namun berusaha
mencari kebahagiaan.
Seperti
halnya penjual susu segar, yang sudah tua, didepan gerbang asrama. Dia selalu
menunggu datangnya pelanggan walau menunggu hingga gerbang asrama tutup karena
jam malam tiba. Sedih memang. Ia hanya mampu menjual beberapa buah tiap harinya
bahkan ia tidak menjual satupun dari apa yang ia bawa. Dan esok ia kembali
datang dengan jaket parasut tipisnya seraya berteriak lirih kembali memanggil
orang-orang yang tiada yang menghiraukan keberadaannya. Namun, bapak tua itu
masih semangat dalam menjalaninya.
Ada
juga pemulung setengah baya yang berkeliling dari satu tong sampah ke tong
sampah lainnya. Ia membawa dua orang anaknya yang masih kecil. Anak yang paling
tua kira-kira berumur 4 tahun. Ia berjalan mengikuti sang ibu, mencoba membantu
memunguti sampah dengan kaki tak beralas dan berbaju lusuh. Saat ia berhenti
didepan auditorium AHN, kala ada acara seminar, ia hanya memandangi kotak-kotak
nasi yang tertumpuk rapi di atas meja panitia.
Melihat hal itu, panitia berbaik hati memberikan mereka
nasi 2 kotak. Betapa bahagianya bocah-bocah kecil itu mendapat makan berlauk
ayam. Ia berlari girang dengan tapak kaki kecilnya yang sudah menghitam kotor
karena tanah. Sang ibu tertawa senang melihat buah hatinya begitu bahagia.
Tanpa mereka sadari,
ada setetes air dari mata hati yang perih melihat kondisi ini, masih ada
keceriaan dalam diri mereka walau tengah dalam jeratan kemiskinan. Tampaknya
syukur dan semangat hidup yang ada dalam diri mereka memang suatu langkah bisa
melalui lautan kehidupan dengan kebahagiaan.

0 komentar: