![]() | |
| Beberapa siswa SDN Cibuluh 5 beserta Mahasiswa IPB memperlihatkan hasil karya mereka (Foto : Umi) |
Tim ini
memilih 30 murid kelas 3-5 SDN Cibuluh 5 sebagai sasaran kegiatan dikarenakan
adanya lokasi sentral pewarnaan
batik di kota Bogor berada di Cibuluh. Tujuan dari acara
ini adalah ada wawasan
tentang batik yang di berikan ke generasi selanjutnya
yang lebih muda dan diharapkan ada beberapa yang tertarik atau
setidaknya mereka bisa mengapresiasi batik Indonesia yang punya beragam motif, karena pengrajin batik sekarang kebanyakan adalah ibu-ibu yang
sudah cukup tua sehingga mau tidak mau dibutuhkan generasi muda untuk
menjadi penerus tradisi asli Indonesia ini. Selain itu, anak-anak juga diharapkan mampu mengenal biodiversitas (keanekaragaman
hayati) di Indonesia dengan budaya batik. Menurut ketua
tim PKM-M Nadya Megawati Rachman,”Pengennya
anak-anak mampu sadar kalau
banyak keanekaragaman hayati di Indonesia dan melalui batik kita mampu
menyampaikan untuk mencintai biodiversitas selain itu juga agar batik indonesia
tetap lestari”.
Dalam acara
ini motif batik yang dipakai untuk
kegiatan ini ada empat (
komodo, elang, orang hutan, harimau sumatera). Desain sendiri mereka bekerja sama dengan salah satu teman dari
anggota tim. Desain yang
dipakai sederhana hanya dasar membatik saja yang dilakukan yaitu cara meletakan
malam diatas kain belum sampai tahap pewarnaan. Gerakan yang hendak dicapai
adalah avektif yaitu adanya
tumbuh kesadaran akan pentingnya melestarikan kebudayaan serta mencintai
biodiversitas, Psikomotorik yaitu kecepatan dengan melakukan games dengan mengajak lari anak anak dan
menyusun gambar motif,
Kognitif yaitu aspek
pengetahuan dengan pemberian pengetahuan tentang keanekaragaman hayati serta pembatikan yaitu menciptakan kecintaan untuk generasi
penerus serta tumbuh rasa peduli terhadap keanekaragaman hewan yang mulai
langka serta mampu belajar membatik sehingga melestarikan budaya kita.
Acara ini
dimulai dengan presentasi mengenai batik dan biodiversitas Indonesia oleh Ayu
Wulansari, penyajian yang menarik membuat animo para siswa sangat besar,bahkan
banyak siswa yang mendengarkan lewat jendela karena bukan merupakan siswa
terpilih yang mengikuti acara tersebut tapi penasaran dengan acara ini. Setelah
presentasi acara dilanjutkan dengan menonton dua video,yang pertama tentang
kekayaan batik Indonesia yang membuka wawasan mereka dan yang kedua tentang
hewan-hewan di Indonesia yang sudah punah maupun terancam yang membuat para
siswa bertekad untuk bisa melindungi hewan-hewan tersebut, lalu dilanjutkan
dengan game dan acara puncaknya,yaitu acara membatik. Menurut salah satu siswa
kelas 4 Sifa aulia,”Perasaanku senang ini adalah pengalaman pertama, tadi
malamya (bahan membatik) panas
dan sempat grogi jadi
gemeteran. Kalo ada kakak mahasiswa datang lagi kesini mau sekali.”
Kepala
Sekolah SDN Cibuluh 5 ,Dra. H.
Yuniarsitah pada saat diwawancara tim reporter koran kampus IPB
mengatakan bahwa adanya mahasiswa
yang terjun ke masyarakat itu sangat bagus karena mampu memberikan wawasan
baru. Baik bagi masyarakat yang didatangi maupun mahasiswa karena langsung
bersosialisasi dengan masyarakat. Sekolah sangat terbuka dengan adanya kegiatan ini, sekolah bisa saja memberikan
bantuan dengan apa yang bisa dipersiapkan. Seperti ruangan, dan peserta (siswa
SD) “kami terbuka demi menambah kemajuan dan wawasan anak-anak didik kami”.
Tapi sekolah tidak menyediakan peralatan (medianya). Beliau berharap
bahwa semoga dengan adanya acara
pembekalan cara membuat batik, mampu meningkatkan keinginan anak-anak untuk
mencintai dan membudayakan produk Indonesia,dan terakhir beliau
mempunyai pesan untuk mahasiswa IPB yaitu Mahasiswa yang produktif mampu memberikan ilmunya pada semua. Baik di dunia pendidikan
maupun bekerjasama dengan yang lain. Seharusnya mahsiswa juga ketika
menyampaikan inspirasinya dengan cara yang baik jangan cara preman. Harus sesuai dengan intelektualitas yang mahasiswa miliki, sehingga ada bedanya antara masyarakat biasa
dengan mahasiswa. Tapi untuk mahasiswa IPB sendiri saya belum pernah mendengar hal anarkis
dalam menyampaikan inspirasinya.
Adhiet Yogi Utomo


0 komentar: