Sebagai langkah konkrit dalam
memberi solusi terhadap isu diversifikasi pangan, Fakultas Teknologi Pertanian
(Fateta) IPB yang dimotori oleh Departemen Imu dan Teknologi Pangan berhasil membuat
beras analog atau yang bisa disebut juga dengan beras tiruan. Sesuai dengan
namanya, beras tiruan merupakan sebuah terobosan dalam mengurangi konsumsi
beras, tetapi tetap dengan pangan berkarbohidrat menyerupai beras.
Beras yang sudah berpuluh-puluh
tahun menjadi makanan pokok mayoritas masyarakat di Indonesia memang sulit
untuk digantikan meskipun saat ini kondisinya sudah tidak mampu lagi memenuhi
kebutuhan masyarakat Indonesia yang kian bertambah.
“Di Indonesia, untuk bisa melakukan diversifikasi pangan
yang akan berhasil diterima masyarakat sejauh ini hanya dua, kalau tidak jagung
ya mie,” ungkap Annisa Kharunia
Mahasiswa semester 8 Ilmu Teknologi Pangan IPB. Icha, begitu biasa ia dipanggil
menambahkan bahwa untuk memilih jagung tentu tidak akan mudah karena posisi
beras dalam kehidupan masyarakat sudah mendarah daging. Sedangkan jika memilih
mie hal ini justru tidak efektif mengingat mie terbuat dari tepung terigu.
“Maka solusi yang paling bijak adalah menciptakan pangan
berbentuk beras tetapi aslinya bukan benar-benar beras,” kata Icha lagi. Icha
yang bekerjasama dengan dua rekan lainnya yaitu Suba Santika dan Yullianti,di
bawah bimbingan dosen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB Dr. Slamet Budijanto telah
mengembangkan proyek beras analog ini kurang lebih satu tahun belakangan.
Beras analog atau beras tiruan ini dihasilkan dengan
menggunakan teknologi Hot extrusion
dengan mesin pendukung double screw
extruder dengan modifikasi pada bagian
dye mesin. Sejauh ini penelitian masih dilakukan di laboratorium
Techno-Park IPB.
Beras analog sebenarnya bukan hal yang baru dalam teknologi
pangan dunia, beberapa Negara pengkonsumsi beras sudah melakukan hal yang sama
seperti halnya Thailand. Akan tetapi yang menjadi keunggulan beras analog
rekaan mahasiswa IPB ini adalah jika Negara-negara lain tersebut membuat beras
analog dengan menggunakan menir, maka mahasiswa IPB ini menghasilkan beras
analog dari sumber karbohidrat alami lainnya seperti dari sagu, sorgum, dan
jagung. “Bahkan kita bisa menambahkan zat yang kita mau, misalnya menambahkan
beta karoten yang sangat sedikit terkandung dalam beras asli,” kata Icha.
Ke depannya penelitian ini diharapakan mampu di produksi
secara konvensional dalam menciptakan alternatif diversifikasi pangan. Apalagi
setelah penelitian ini mendapat respons positif dari Menteri BUMN Dahlan Iskan
ketika diperkenalkan saat beliau menghadiri Seminar Memperingati 60 Tahun
Pendidikan Pertanian di Indonesia beberapa waktu yang lalu di Graha Widya
Wisuda (GWW) IPB.
David
Pratama

0 komentar: